There’s Something About Morrie

There’s Something About Marry…remind you with something? yea bingo! it’s a title of movie –black comedy, satire dan pastinya lucu dong– film tahun 1998 yang Ney tonton bareng dengan teman-teman sekost saat masih berstatus mahasiswi yang sok merasa intelektual padahal mah biasa aja..ya tapi ujung-ujungnya IPK doi juga cuma lumayan hingga jadi ora kanggo sampai sekarang tuh he..he..*Upps sorry Ney..

Tapi aku bukan mau menceritakan film yang Ney tonton itu jika penasaran tanya Om Google, yang jelas salah dua pemainnya aktris berwajah eksotis Cameron Diaz serta aktor watak Ben Stiller, pas mewakili wajah ordinary America..

Karena Ney sibuk, dia memintaku untuk menceritakan kesan tentang Kisah Morrie and Mitch ini.

——————–

Tuesdays With MorrieKuamati buku ini, setting covernya sangat menarik ada sebuah bangku kayu di tepi danau dan rerumputan hijau yang menjadi alasnya, padanan warna yang pas, semalam Nenyok mengcopy dan mengirimnya khusus untukku, dia bilang itu hadiah dari Bundo dari pulau sumatera sana, kau penasaran bukan bagaimana caranya bisa tiba di Mars, tak perlu pakai jasa pos, aku hanya meminta Ney memasukan buku itu ke suatu alat kemudian memecahkan buku itu menjadi partikel-partikel nano dan dia mengirimkannya melalui frekwensi tertentu kemudian aku mengkonversikannya, menyusun kembali partikel nano-nya menjadi materi bentuk semula; buku yang utuh ini, hebat bukan? :ya seperti saat menjadi invisible, begitulah cara kerjanya.

Masih belum mengerti?

Mengertilah!!

atau lupakan saja!!! He..he..

Baiklah, aku –Zet a.k.a Zarkalina– ingin bercerita tentang Buku Tuesdays With Morrie sekadar kesanku, jadi ini bukan review atau resensi ya…jangan salah kira!!!

Terinspirasi judul film yang diceritakan Ney maka kesan pertama setelah selesai membaca buku itu adalah…Owwh.. There’s Something About Morrie!!!!

Well, gagasan Morrie jelas –seperti kontradiktif dengan tata budaya yang dianut lingkungannya– sesuatu yang mungkin jadi barang aneh dalam budaya materialisme dan hedonisme sekarang, bukan soal penyakit ALS yang diderita Morrie, tapi gagasan pemikiran dan cara pandangnya tentang banyak hal —dicetuskan oleh seorang profesor sosiologi yang bahkan hidup dalam budaya barat yang sangat menjunjung tinggi kebebasan individu berbasis sekulerisme– meski secara subjektif aku mengatakan mungkin saja itu tak terjadi jika Morrie tidak dalam kondisi menghadapi maut yang makin dekat, tapi itu alasan yang tak perlu dicari-cari dan tak penting untuk diperbincangkan.

Okay..aku ingin menceritakan hal-hal yang paling menarik yang aku sukai dan lumayan memberikan pencerahan setelah aku membacanya. Morrie!!, He is a Profesor, definitely of course, so mempunyai gagasan atau ide yang cemerlang adalah hal semestinya bagi orang selevel professor.

Tahu tidak aku selalu berangan mempunyai sahabat berbagi cerita seorang Profesor yang mungkin sedikit romantis huahahaha ;) apapula ini. Mmhh  maksudku seorang sosok kebapakan yang dengannya aku bisa banyak berdiskusi tentang banyak hal, sebenarnya kalau buatku pastinya tentang mengajukan pertanyaan-pertanyaan, ya seperti Mitch kepada Morrie tapi ya tentunya kondisinya kesehatannya tidak separah itu, paling tidak aku bisa makan bersamanya dengan normal, mungkin mengajaknya menonton film horor di bioskop, minum kopi bersama sambil berdebat atau tertawa dengan keras. *Hallo adakah Professor yang membaca ini dan mau menjadi temanku, oh ya kalau bisa umurnya dia atas 50 ya supaya aku bisa memanggilnya Daddy..namanya juga mungkin harus berawalan Z seperti namaku, siapa tahu aku bisa menuliskan perbincangan kami seperti Mitch and Morrie, padanan nama yang seperti sudah ditakdirkan *khayalandotcom

Begitulah, orang-orang yang diceritakan buku yang menurutku smart, intelektual, humble apalagi relijius, selalu saja menarik perhatianku seperti kutub magnet yang mempunyai daya magnetis kuat yang membuat aku terhisap ke arahnya —layaknya blackhole yang menghisap semua materi tanpa ampun– atau mungkin aku ingin menyerupai mereka, entahlah!!!

Kebanyakan basa-basi jhe..tuh apa kubilang aku ini seorang pengkhayal ulung kan :D

Baiklah…

Mitch and Morrie, salah satu kisah romantis buatku, persahabatan yang essensinya jauh melampui makna persahabatan itu sendiri, perbedaan generasi diantara mereka justru saling menyambungkan frekuensi pemikiran keduanya, yang satu memberi ilmu satunya memberi kasih sayang, saling memberi dan menerima tepat terejawantahkan dalam relasi seorang murid dan guru yang menyentuh setiap hati pembacanya.

Secara umum Morrie berbicara tentang makna hidup dan hal yang paling menarik perhatianku saat dia berbicara soal budaya, perkawinan, dan tentang memaafkan diri sendiri.

Simaklah kata-katanya berikut:

“Menanti datangnya ajal, hanya salah satu diantara yang patut disedihkan, Mitch. Tapi hidup tanpa kebahagiann lebih menyedihkan. Banyak diantara orang yang mengunjungiku adalah orang yang tak bahagia,”

Mengapa?

“Ya pertama, kita orang Amerika hidup dalam budaya yang tidak membuat kita sendiri merasa nyaman. Peradaban ini mengajarkan banyak hal yang keliru. Dan kita harus cukup tangguh untuk berani mengatakan bahwa bila budaya itu tidak sesuai dengan hati jangan diteruskan. Ciptakan budaya kita sendiri”

Sungguh aku setuju dengan ucapan Sang Professor, bahwa jika itu bertentangan dengan hati nurani untuk apa diteruskan karena biasanya cenderung merusak jika hasil akal budi atau budaya ini menentang fithrah manusia, aku kira budaya yang benar adalah saat budaya itu tidak berbenturan dengan norma serta tidak memicu konflik yang membuat manusia bingung membedakan mana yang benar dan yang salah, dan rasanya yang paling ideal adalah ketika budaya yang merupakan karya akal budi manusia tetap tunduk dalam koridor norma agama, rasanya yakin tak akan banyak misinterpretasi dalam banyak hal, you know bukankah agama pada dasarnya mengajarkan kebaikan dan kesantunan, dan hati manusia biasanya cenderung melakukan hal-hal baik tidak menyalahi fithrah dan naluri yang membuatnya mampu untuk tetap berusaha lurus. Bener ga? IMHO Cmiw..!!!

Morrie juga bilang, tata ekonomi yang ada di dunia cenderung membuat manusia materialistis dan seolah menuhankan benda dan menganggap itu sebagai sumber kebahagian dan tujuan hidup, kemudian tentang manusia beliau mengatakan seharusnya kita yakin bahwa manusia dasarnya sama, tak seharusnya yang putih merasa lebih tinggi dari yang hitam dan semacamnya, dan jika umat manusia meyakini itu, maka pasti ada hasrat yang besar untuk bergabung dalam sebuah keluarga besar umat manusia, ya katakanlah tidak dikotakkan-kotakkan oleh nasionalisme atau batas geografis yang sebenarnya maya (hanya asumsi-asumsi manusia itu sendiri) semua itu disadari Morrie karena pada hakikatnya manusia terlahir dalam keadaan sama dan juga mempunyai akhir yang sama yaitu kematian.

Tahu tidak, itu ide yang menarik, keluarga besar manusia, hmm bahkan dalam term islam, bukankah sejatinya Allah menciptakan manusia dalam berbagai ras dan suku bangsa dan itu bukan jadi alasan untuk saling berbeda, karena di mata Alloh ketaqwaanlah yang jadi ukurannya.

Semuanya jelas ya Ney, jika Morrie yang Jew dan kemudian agnostik itu, memiliki gagasan demikian, belajar dari pengalaman hidup yang dijalaninya maka dalam ajaran agama kita, semuanya sudah disampaikan dengan jelas dan rinci, well, ingat kan islam adalah rahmatan Lil alamin, segala aturan hidup dari yang tetek bengek hingga soal-soal besar sudah tercakup didalamnya.

Bagaimana menurut kalian..

Aduh aku masih ingin memperbincangkan pandangan Morrie tentang perkawinan dan memaafkan, tapi rupanya aku terlalu lelah, mataku sudah terkantuk-kantuk, kita lanjutkan nanti, Oh ya selama membaca buku itu, yang intinya bagaimana sesorang yang begitu dekat dengan kematian –Morrie— yang mungkin bagi kebanyakan orang adalah vonis yang bisa melumpuhkan jiwanya hingga bisa terjebak dalam amarah dan memposisikan diri sebagai korban nasib, tidak demikian dengan Morrie, Ia memilih menjadikan saat-saat terakhir hidupnya dengan memberi dengan tetap bersemangat berbagi tetap memberi manfaat bagi orang-orang disekitar bahkan seluruh dunia termasuk aku sekarang.

Ada sedikit pertanyaan kecil mungkin, selama aku membaca bukunya aku tak melihat ada bahasan bagaimana kematian sesungguhnya di mata Morrie, dia hanya mengatakan belajar menghadapi kematian sebagaimana belajar menghadapi hidup. Hmm …

Sepemahamanku kematian adalah pintu atau awal kehidupan yang baru yang abadi, dan hidup di dunia sekarang adalah hidup untuk membekali hidup abadi selanjutnya, tidak sekedar mati begitu saja bukan??

What do you think friends..

Kukatakan dengan jelas, Buku ini mencerahkan, menginspirasi because There’s Something About Morrie..

Jadi bacalah!!!

-Zet-

No related posts.

8 Responses to “ There’s Something About Morrie ”

  1. nenyok says:

    Salam,
    Baru ngeh tentang Morrie, ku post hari selasa, kebetulan yang menyenangkan hati kawan :)
    I missed you Daddy..my profesor..pulsarku *tarik nafas panjang dan lama*

  2. nakjaDimande says:

    hai zet, aku baca celotehmu ini di dekat jendela ruang kerja tempatku dapat menikmati keindahan kembang sepatu yang bunganya merah jambu [TwM halaman pertama] :P

    Zet tolong bilang pada ney, hari ini dia sudah pamer jari kelingkingnya yang berkuku panjang itu, suruh potong bila tak mau dijewer sama bundo..!

    • nenyok says:

      Salam,
      Zet said: Igh Bundo segitu detailnya sih..kekekke.. itu tuh pengganti cotton bud di kuping
      *si Ney bakal tambah dimarahin bundo keknya hihihi…

  3. wi3nd says:

    its @ 9reats book zet :)

    yan9 memberikan pencerahan untuku ju9a,iya kita membahas hal y9 sama 2 kali yah,pastina den9an versi kita masin92 :)

    ** ney klin9kin9 kita sama sama panjan9 kukunya :D ,tapi jemarimu lebih putih than me :)

  4. manshurzikri says:

    baru tadi malam gue nge-liat tmn sekosan bc tu novel, eh pagi ini gue bc resensi ny,,
    wkwkwkwk
    nice post,, Ney! jd tertarik pengen bc,,
    hehe
    :P

  5. achoey says:

    novel yg bagus
    ehmm
    makasih teteh dah meresensinya :)

  6. guskar says:

    kemarin sore saya selesaikan membaca Tuesdays With Morrie (hadiah dari bundo, tentu saja), cukup lama waktu yg saya pergunakan untuk membacanya : 197 kali dudukan.
    ulasannya cukup lengkap ney, bisa untuk alasan saya ke bundo untuk tidak perlu membuat review buku ini, cukup membaca postingan ney ini aja :P

  7. sewaktu blm selesai membaca ”tuesday with morrie” di blog bundo ada hadiah buku ini.
    begitu selesai membacanya, kagum pd bundoku ini,
    bener2 deh bundo kita yg baik hati ini, pandai sekali merekomendasikan buku2 bagus.
    salam.

Leave a Reply